Sejarah Desa Sibanggede

  • Dibaca: 4759 Pengunjung

 

LAMBANG DESA SIBANGGEDE

 

Materi Lambang:

1.      Mahkota Kembang Sepatu.

2.      Padma Bhuana.

3.      Kentongan “ Pajenengan Sangkur”.

4.      Gangsa.

5.      Padi dan Bunga Cempaka

6.      Jembatan Kuno ( Kereteg Tua Sibang )

7.      Motto ‘ Satya Jagadhita Çarana ‘”

 

Uraian Arti Lambang

1.      Mahkota Kembang Sepatuwarna merah sebagai dasar Lambang :

Mahkota Kembang Sepatu Merah “ Pucuk Bang” dengan  Lima Helai Bunga adalah simbul dari Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila sebagai palsafat hidup Bangsa Indonesia;

Sedangkan Pucuk Bang adalah Asal Usul nama Desa Sibang berdasarkan cerita legenda bahwa pada zaman Raja-raja memerintah Sibang maka sebagai benteng Daerah Wilayah ditanamlah pohon kembang sepatu merah disekeliling kekuasaan Sibang, sehingga dari luar tampak merah menyala dan disebutlah wilayah itu Si Merah “ SAIBANG” dalam perkembangan selanjutnya menjadi “SAIBANG”.

Warna: Mahkota Kembang Sepatu berwarna Merah berarti gerak dinamika yang berani dalam membela dan mengamankan Negara Pancasila, sedangkan Mahkota Kembang Sepatu dengan kostom warna hitam berarti ketegasan dan tahan uji.

 

 

 

 

2.      Padma Bhuana

Padma Bhuana sebagai “ Pengider – Ider Jagat “ adalah simbul dari Wyapakanya Hyang Widhi untuk memutar alam semesta yang abadi merupakan dasar kekuatan makro dan mikrosmos melambangkan Ida Hyang Pramakawi bahwa masyarakat Sibanggede adalah masyarakat Religius.

 

Warna Padma Bhuana berwarna Putih berarti bahwa kehidupan Religius adalah kehidupan yang suci yang mengakui kemaha kuasaanNya ( Astaswarya ).

3.      Kentongan “ Pajenengan Sangkur “

Kentongan Pajenengan Sangkur yang disemayamkan dipohon Beringin di Bencingah Desa Sibanggede sangat dikeramatkan oleh masyarakat  Desa Sibanggede . Kentongan dalam kehidupan tradisional masyarakat Bali merupakan sarana guna memberi “ Tetenger” kepada warga masyarakat untuk berkumpul dalam pesamuan (rapat).

Sebagai tanda panggilan untuk bersatu dalam memikul suka duka yang dilandasi semangat temu wirasa , temu wicara dan temu wikarya. Kentongan Pejenengan Sangkur adalah lambang semangat persatuan warga masyrakat Desa Sibanggede.

Warna : Kentongan dengan pembukus Wastra kain warna poleng ( hitam putih ) bermakna bahwa dalam paham Agama Hindu terdapat kepercayaan warna poleng sebagai penghalau Bhuta Khala ,Unsur – unsur perusak, penolak bahaya untuk bisa tercapainya kesejahteraan Masyarakat.

 

4.      Gangsa dengan Daun 12 buah

Gangsa adalah salah satu alat musik “ Gamelan” Bali yang sudah termasyur keseluruh dunia dengan nilai seninya yang sangat tinggi, bahwa dengan gangsa dimaksudkan Desa Sibanggede adalah Desa yang memiliki potensi Kesenian Tradisional yang sangat tinggi khususnya dibidang Seni Tari dan Tabuh.  

Daun Gangsa berjumlah 12 buah bermakna Desa Sibanggede terdiri 12 Banjar Adat dan Dinas, sebagai pendukungnya yang sudah tentu pula menentukan corak warna irama dari segala kebijakan Pemerintah Desa Sibanggede dalam mensejahterakan masyarakatnya.

Warna Ganngsa itu sendiri berwarna kuning mas adalah warna rembulan perlambang dari cinta kasih, kebijaksanaan serta sifat-sifat mulia, bahwa diantara 12 Banjar selalu terwujudnya saling asah asi asuh dilandasi kebijaksanaan dan sifat-sifat mulia.

5.      Padi dan Bunga Cempaka

Padi adalah simbul dari Pangan perlambang kemakmuran yang menjadi cita-cita Desa Sibanggede . Padi dalam metodelogi Hindu adalah penjelmaan Dewi Sri saktinya Dewa Wisnu, bahwa Desa Sibanggede dahulu juga disebut dengan Sibang Srijati. Padi menunjukan juga bahwa penduduk Desa Sibanggede adalah masyarakat agraris.

Bunga Cempaka Putih sebagai ciri bahwa warga Desa Sibanggede lebih mengutamakan watak tentram damai hidup berdampingan yang dilandasi hati tulus suci serta mendambakan keserasian. Masing-masing untaian padi dan bunga cempaka terdiri dari 17 butir padi dan delapan bunga cempaka yang berdaun

bunga 4 dan 5 helai melambangkan tanggal 17 bulan agustus tahun 1945 adalah hari Proklamasi Kemerdekaan Replublik Indonesia merupakan peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan Sejarah Bangsa Indonesia, oleh karena Kemerdekaan adalah jembatan Emas untuk menuju cita – cita Bangsa Indonesia.

Warna : Padi berwarna kuning berarti kebijaksanaan Luhur dan Agung. Bunga cempaka berwarna putih berarti tulus suci, cinta baik antara sesama warga se Desa maupun dari Desa sekitarnya.

6.      Jembatan Kuno ( Kereteg Tua Sibang )

 

Jembatan Kuno yang melintang diatas sungai Ayung menghubungkan Desa Sibanggede dengan Desa di sebelah selatannya adalah sebuah hasil karya yang unik dari Tentera Masyarakat Sibanggede, pada sekitar akhir abad ke 17 di bawah pimpinan serangkai.

-          Ida Pedanda Sakti Mambal

-          Anak Agung Gede Kemasan Sakti

-          I Gusti Ngurah Sakti Mambal

Jembatan tersebuit dibuat dari bahan batu paras, yang dipasang dengan tehknik tradisional Bali.

Dengan jembatan kuno dimaksudkan bahwa masyarakat Desa Sibanggede sejak jaman dahulu sudah memiliki Jiwa persaudaraan hidup berdampingan secara damai dengan lingkungannya.

Warna : Putih dengan kostom hitam berarti persaudaraan didasarkan atas hati suci namun tegas dalam sifat terhadap pengganggu ketentraman masyarakat Sibanggede.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7.      Motto “ SATYA JAGADHITA ÇARANA “

Satya                           : Kebenaran

Jagadhita                     : Kesejahteraan

Çarana                         : Sarana

Satya Jagadhita Çarana artinya kebenaran selaku sarana kesejahteraan masyarakat, sebab kebenaran adalah kekuatan untuk mencapai tujuan.

Tujuan Masyarakat Desa Sibanggede adalah kesejahteraan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SEJARAH DESA SIBANGGEDE

 

            Balidwipa dimasa silam memendam sejarah pemerintahan oleh raja-raja yang acap kali sebagai kerajaan merdeka berdiri sendiri, namun kadang kala hidup berdampingan dengan kerajaan-kerajaan besar di Pulau Jawa, bahkan tidak jarang pada kurun waktu tertentu merupakan jajahan dari kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa, namun sebaliknya sering kali raja-raja Bali mampu menguasai Daerah Jawa Bagian Timur yaitu Blambangan dan Pasuruan, bahkan hingga Pulau Lombok dan Sumbawa.

            Zaman kerjaan di Bali mencapai puncak keemasannya pada masa pemerintahan Dalem Çri Batur Enggong yang melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit di Jawa pada pertengahan abad ke XIV, ketika itu Gelgel menjadi pusat pemerintahan dan ibukota negeri.

            Keraton Gelgel masa penjajahan Dalem Çri di Made Keraton Gelgel hancur lebur karena terjadi perebutan kekuasaan pada tahun 1651 Masehi yang dilakukan oleh Kiayi Agung Maruti dalam kedudukannya sebagai Patih Agung, sehingga sejak saat itu Bali terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang masing-masing memiliki kekuasaan mandiri.

            Kiayi Agung Maruti memerintah kerajaan Gegel, yang tidak utuh lagi selama 26 tahun, sehingga akhirnya Gegel bisa direbut kembali oleh putra bungsu Dalem Çri Di Made yang bernama Dewa Agung Jambe.

 

            Tersebutlah Kiayi Agung Maruti beserta keluarga dan pengikut-pengikutnya melarikan diri dan mengungsi ke hutan Jimbaran di debelah selatan Daerah Badung.

            Selanjutnya Babad Mengwi menyebutkan, bahwa beliau pergi ke barat hingga Desa Kapal kemudian kembali lagi ke timur hingga memasuki hutan Rangkan, yang dalam perkembangannya kemudian disebut Kuramas, dan dijadikan pusat kekuasaannya yang baru. Kemudian kerajaan itu dibagi dua yaitu: putra tertua I Gusti Agung Putu merintah Daerah Timur dengan kedudukan di Kuramas, sedangkan putra bungsu, I Gusti Agung Anom bergelar I Gusti Agung M.Agung memerintah Daerah Barat, bertempat di Kapal. Putra bungsu inilah yang nantinya akan menurunkan para bangsawan Menguwi yang ikut menentukan sebagai sejarah Sibang kemudian. Putra satu-satunya dari I Gusti Agung M.Agung oleh karena memohon di Pura Sadha Kapal yaitu I Gusti Agung Putu membawa Daerah kekuasaannya kepuncak kebesarannya dengan melahirkan kerajaan Mengui (Mangupura) yang mewilayahi daerah yang luas, berkat Wara Nugraha Sanghyang Widi  di Puncak Mangu, di selatan Jimbaran, Huluwatu dan Barawa, di timur, sebelah barat sungai Petanu, di barat : Jembrana hingga dataran Blambangan diujung Jawa Timur, di utara daerah Panji Sakti Buleleng.

            Setelah Abiseka Ratu beliau bergelar Cokorda Sakti Blambangan. Diceritakan sekarang tentang daerah Sibang yang terletak disisi timur aliran sungai ayung sudah sejak sedia kala dihuni oleh penduduk terutama (dibagian selatan) yaitu Serijati dan Cabe sedangkan dibagian utara hingga Daerah Mambal masih merupakan hutan belantara. Dinamakan Saibang konon pada zaman dahulu seputar sisi timur Desa ditanami pohon Pucuk Baang (kembang sepatu merah). Sehingga setiap waktu dari jauh selalu kelihatan merah menyala sehingga daerah itu dijuluki Sai Baang (selalu merah). Tat kala kerajaan Mengwi, dibawah Cokorda Sakti Blambangan mengembangkan wilayahnya sudah tentu Anglurah Sibang Serijati ikut menyatakan takluk kepada beliau bersama-sama dengan Anglurah Pacung (Payangan), Yeh Tengah, Mambal, Blahbatuh dan lainnya lagi. Untuk mengawasi dan memerintah daerah Saibaang Serijati diserahkan kepada salah seorang Putra beliau yang bernama I Gusti Agung Made Kamasan.

            Tiba saatnya Ida Cokorda Sakti Blambanagan mangkat dan diganti oleh Putra beliau yang bernama Ida Cokorda Agung Made Banya. Pada suatu hari Cokorda Agung Made Banya melakukan inspeksi ke daerah Blambangan, maka untuk mengawasi Puri beliau di Mengwi pemerintahan sementara diserahkan kepada kakak beliau yaitu I Gusti Agung Made Kamasan Saibaang Serijati.

            Timbul pikiran dari I Gusti Agung Made Kamasan untuk merebut singga sana kekuasaan Adinsanya menjadi raja Mengwi.maksudnya itu disokong oleh Manggis Kuning Gianyar. Namun akhirnya gagal karena Cokorda Agung Made Banya kembali dari Blambangan maka I Gusti Made Kamasan menyingkirkan beserta sikap pengiringnya ke utara yaitu di banjar Sayan, dan selanjutnya bersama sama para Busana Sayan mengungsi ke Daerah Den Kayu. Tanpa digubris oleh Adinda raja beliau raja Mengwi, maka perjalanan terus dilanjutkan menuju daerah Tampaksiring. Tiada beberapa lama rombongan beliau tersebut pindah ke daerah kerajaan Badung dan oleh Badung atau raja Badung diberikan tempat tinggal di Ubung. Cukup lama beliau menetap disana disungsung oleh para Ampel Gading. Akhirnya pada suatu ketika dibuatlah layang-layang yang besar dan pada ekor layang itu diikatkan sepucuk surat untuk adinda raja Mengwi dengan maksud bahwa beliau akan kembali lagi ke daerah Mengwi yaitu daerah Saibang Serijati, hanya beliau minta agar diberikan tambahan daerah lagi yaitu derah Sempidi, Lukluk, Perang dan Angungan. Tambahan pula agar beliau tidak kehilangan. Maka diharapkan agar daerah-daerah tersebut seakan-akan jatuh melalui suatu peperangan. Pada hari yang telah ditentukan bergeraklah pasukan  I Gusti Agung Made Kamasan dari Ubung diiringi oleh para busana Sayan dan Ampel Gading menyerang dan menaklukkan Desa Sempidi, Lukluk, Perang dan Angungan.

            Selanjutnya peperangan dilanjutkan ke desa tegal Saibang dan mendapat perlawanan dari rakyat tegal dibawah pimpinan Kebo Ampel. Tegalpun jatuh dan Kebo Ampel yang gagah berani akhirnya menjadi orang kesayangan beliau disamping panglima-panglima yang lain. Di tegal beliau mendirikan Puri dan lama menetap. Mulailah beliau memikirkan untuk masuk kembali ke daerah Saibang Srijati sebab harus diperhitungkan kekuatan pemimpin mereka yaitu Pasek Karang Buncing dua bersaudara masing-masing I Mica Gundil dan I Abug Maong. Penyerangan mula-mula ditujukan ke Cabe, namun induk pasukan Karang Buncing mundur dan dipusatkan disisi utara seberang sungai Ayung dengan pertahanan lembah sungai yang tangguh dan kuat secara diam-diam pasukan I Gusti Agung Made Kamasan melakukan gerakan penyusupan ke utara melalui tanah ayu, kemudian menyebrang sungai ayung ke timur dan menyerang dari utara maka kalahlah Karang Buncing dan jatuhlah Saibang Serijati dibawah I Gusti Agung Made Kamasan kembali ke Puri Tegal ditunggalkan dan mulai dibanggun Puri di Sibang bersama-sama rakyat terutama para busana Sayan. Disini beliau menetap dan beranak-pinak  masih dalam kaitan dengan kerajaan Mengwi.

            Karena perputaran jaman Mengwi mulai mundur suatu ketika daerahnya Anglurah Mambal diserang oleh Cokorda Tapisan keturunan Sukawati sehingga kalah dan minta perlindungan kepada I Gusti Agung Ketut Kamasan diberikan bertempat tinggal di Sibang bagian utara dinamakan Sibangkaja.

            Demikian pula Anglurah Bun berani menyatakan diri mereka lepas dari kekuasaan Mengwi, maka terjadilah perang antara pasukan Bun yang diserang dari utara oelh pasukan Mengwi dibaah I Gusti Agung Made Munggu dan dari barat oleh pasukan Saibang dibawah I Gusti Agung Ketut Kamasan. Anglurah Bun kalah sanak keluarganya yang menyerah ke Sibang diberi tempat tinggal di banjar bantas, sedang Begawan tanya dibuatkan Geriya didekat Pura Dalem Setra Sibang dinamakan Geriya Dalem. Namun kemunduran kerajaan Mengwi tidak terbendung lagi, baik karena gangguan dari luar maupun karena faktor pengendali kerajaan itu sendiri sudah tentu keadaan daerah Saibang pun seirama dengan kerajaan Mangupura.

            Sejarah selanjutnya menyebutkan bahwa kerajaan Mengwi dikalahkan oleh kerajaan Badung. tiada berapa lama kemudian kerajaan Badung dan Kelungkung dalam perang. Puputan masingmasing tahun 1908 dikalahkan oleh kompeni Belanda. Berdasarkan tata pemerintahan kompeni maka daerah Sibang pernah menjadi satu Punggawa I ialah I Gusti Agung Gede Kamasan, namun kemudian digabung menjadi Punggawa Abiansemal.

            Pada jaman kemerdekaan dengan pemerintah Replublik Indonesia yang berdaulat Sibang terbagi menjadi dua desa : Desa Sibangkaja dan Desa Sibanggede.

            Demikianlah asal usul dari lahirnya nama dan tempat Desa Sibanggede.

 

 

  • Dibaca: 4759 Pengunjung